Lahirnya Harapan Baru dari Lingkungan Padat Penduduk

Gomong-Mataram, sudah sejak lama menjadi salah satu pusat padat penduduk di kota Mataram, ada banyak hal menarik ditengahnya, salah satunya karena Gomong sendiri merupakan pusat pendidikan yang diisi oleh banyak pendatang dari berbagai wilayah di NTB, hal ini pastinya juga dibarengi dengan banyak masalah didalamnya. Sebagai salah satu pusat pemukiman dan pendidikan, sampah menjadi salah satu problematik.

“Dalam seminggu terdapat 2 kali petugas pengangkut sampah berkeliling mengambil sampah disetiap rumah dilingkungan Gomong Sakura. Dilakukan secara rutin kemudian dibawa ke TPS yang letaknya hanya 2 menit dari pemukiman ini, jadi bayangkan saja kalau sampahnya dibiarkan lebih lama saja beberapa hari maka baunya akan kemana-mana dah” ujar Gahtan Ikrima ketua Kelompok Lampak Bareng.

Kelompok ini lahir dari semangat gotong royong warga Gomong Sakura yang dalam terhadap semua masalah lingkungan yang lahir di Gomong, terutama Gomong Sakura. Sejak awal tahun 2025 Kahaya Nusa jalan bergandengan sebagai mitra yang saling bahu membahu menjaga agar lingkungan tetap kondusif dari persampahan. Hingga akhirnya pada bulan Maret 2025, secara bersama Kahaya Nusa, Kelompok Lampak Bareng, pemerintah Lingkungan serta warga melakukan gotong royong yang bertujuan membangkitkan fungsi lahan yang telah lama tidak termanfaatkan. Tujuannya jelas adalah untuk meningkatkan manfaat lahan tersebut sehingga nantinya dapat dimanfaatkan oleh warga dilingkungan Gomong Sakura.

“Kami ingin agar sampah tidak serta merta semua dibuang ke TPS, pada akhirnya semua sampah akan terus menumpuk di TPA, kita hanya akan menghadirkan solusi sementara saja, sehingga kita mulai sama-sama dari tingkat lingkungan terkecil di Mataram, yaitu dengan mulai memilah sampah organic dan non organic. Sampah organic nantinya akan diurai oleh magot, magotnya dapat kita pakai untuk pakan ternak atau pakan ikan. Jamur juga bisa dibeli langsung oleh masyarakat sekaligus jadi media belajar siapapun yang ingin datang belajar dan melihat maupun memanen secara langsung. Kedepan, Ini harapannya tidak hanya dapat mengolah sampah dengan baik namun juga dapat meningkatkan pemasukan kelompok lewat menjual Jamur, Magot atau hasil kebun lainnya. Kami dedikasikan semua ini memang sebagai bahan pengalaman belajar untuk semua orang”, ujar Direktur Kahaya Nusa, Yudi Kusnagin ditengah gotong royong.

Lahan yang digunakan memiliki luas sekitar 6.5 are milik salah seorang warga yang memang sejak lama terbengkalai dan tidak pernah dirawat, awalnya hanya semak belukar. Kini telah berubah menjadi perkebunan warga yang dapat dimanfaatkan untuk semua orang. “Warga dapat memetik sendiri buah dan sayuran, seperti cabai, terong, tomat yang tumbuh di lahan dengan cara menukarkan sampah mereka kemari” ucap Sofian Hadi salah satu anggota Kahaya Nusa sekaligus Sekretaris Kelompok Lampak bareng.

Kini, lahan sepenuhnya dikelola oleh Kelompok Lampak Bareng didampingi Kahaya Nusa. Warga memiliki harapan baru melalui upaya ini.

More Articles